Kenapa Capung Semakin Jarang Terlihat di Sawah dan Sungai Sekitar Kita?

Capung adalah serangga yang akrab dengan momen masa kecil. Dulu, mereka mudah terlihat berterbangan di pematang sawah, hinggap dari satu rumpun rumput ke rumput lainnya, bahkan sering ditangkap dengan tangan kosong, plastik, atau getah nangka sambil menjadi sarana belajar melalui alam secara langsung.

Kini, pemandangan itu semakin jarang ditemui. Hilangnya capung bukan sekadar kebetulan atau akibat perubahan musim, melainkan terkait dengan persoalan ekologis yang lebih serius. Memahami hal ini menjadi penting agar kita dapat menyadari perubahan yang sedang terjadi pada ekosistem di sekitar kita, sering kali tanpa kita sadari.

Serangga Purba yang Bertahan Hingga Saat Ini

Capung termasuk dalam ordo Odonata, dan merupakan salah satu kelompok serangga tertua yang masih hidup hingga hari ini. Fosil capung ditemukan dari periode Karbon, sekitar 360 hingga 290 juta tahun lalu. Jauh sebelum dinosaurus muncul di muka bumi. Leluhur capung purba bahkan memiliki lebar sayap hingga 70 sentimeter, menjadikannya serangga terbesar yang pernah ada.

Dari ratusan juta tahun itu hingga sekarang, capung tersebar luas di seluruh kawasan berair seperti pegunungan, sungai, rawa, danau, sawah, hingga pantai. Indonesia sendiri termasuk salah satu negara dengan keanekaragaman capung tertinggi di dunia, dengan lebih dari 700 spesies yang tercatat di nusantara. Sebagian diantaranya endemik, hanya ditemukan di pulau-pulau tertentu di nusantara. Hutan tropis, sawah, sungai, dan lahan gambut adalah rumah bagi keajaiban kecil bersayap ini.

Capung Sebagai Bioindikator

Para ilmuwan menyebut capung sebagai bioindikator, makhluk hidup yang kehadirannya bisa "membaca" kesehatan suatu ekosistem. Kalau capung banyak dijumpai di sekitar sungai atau lahan basah, itu tanda bahwa airnya bersih, rantai makanannya sehat, dan ekosistemnya masih berfungsi dengan baik. Sebaliknya, kalau capung menghilang, itu "alarm" bahwa terdapat sesuatu yang salah, jauh sebelum manusia bisa mendeteksinya.

Dalam rantai makanan, peran capung tidak bisa diremehkan. Ia memakan nyamuk, lalat, dan serangga kecil lainnya dalam jumlah besar setiap hari, menjadikannya salah satu pengendali alami hama yang paling efektif. Di sisi lain, capung juga menjadi makanan bagi burung, katak, dan laba-laba. Hilangnya capung berarti hilangnya keseimbangan ekosistem dari dua arah sekaligus.

Faktor Lingkungan di Balik Menurunnya Populasi Capung

Perubahan lingkungan pada habitat capung menjadi salah satu penyebab utama mengapa serangga ini semakin jarang terlihat di sawah maupun sungai di sekitar kita. Capung sangat bergantung pada kualitas ekosistem perairan karena sebagian besar siklus hidupnya berlangsung di air, khususnya pada fase larva dan nimfa. Ketika kondisi air tercemar oleh limbah domestik, bahan kimia pertanian, maupun sedimentasi, kemampuan capung untuk berkembang biak menjadi terganggu. Larva yang sensitif terhadap perubahan kualitas air tidak mampu bertahan, sehingga populasi capung pun menurun secara bertahap.

Selain itu, praktik pertanian modern juga turut mempercepat hilangnya habitat capung. Penggunaan pestisida dan insektisida secara berlebihan tidak hanya membunuh hama, tetapi juga berdampak pada organisme non-target seperti capung dan sumber makanannya. Di sisi lain, perubahan fisik lanskap persawahan, seperti saluran irigasi yang kini banyak dilapisi beton serta berkurangnya vegetasi alami di sekitar lahan, menghilangkan ruang hidup dan tempat hinggap capung. Kondisi ini membuat capung semakin sulit menemukan habitat yang sesuai untuk bertahan hidup.

Akibat berbagai perubahan tersebut, keberadaan capung yang dahulu mudah dijumpai kini menjadi semakin langka. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan hilangnya satu jenis serangga, tetapi juga menjadi indikator adanya penurunan kualitas lingkungan, khususnya pada ekosistem perairan di sekitar kita.

Oleh: Aisya Alifarizki

Weekly newsletter
No spam. Just the latest releases and tips, interesting articles, and exclusive interviews in your inbox every week.
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.