
Binturong mungkin bukan satwa yang akrab di keseharian masyarakat, tetapi namanya muncul dalam berita ketika hewan ini tiba-tiba masuk ke pemukiman warga. Pada pertengahan Januari lalu di Pandeglang, Banten, seekor binturong yang turun ke desa mati setelah diserang warga yang mengira sebagai “makhluk jadi-jadian” sebagaimana yang dilaporkan dalam detikNews. Beberapa hari kemudian, 20 Januari 2026 di Serang, kasus serupa berakhir baik. Binturong yang masuk ke dapur warga berhasil diselamatkan dan dikembalikan ke habitatnya oleh BKSDA, sebagaimana dilansir KumparanNews.
Saudara Musang yang Beraroma Seperti Popcorn
Mengacu pada WildWelfare, binturong (Arctictis binturong) merupakan mamalia arboreal dari keluarga Viverridae, saudara dekat dengan musang. Ia hidup di hutan tropis Asia Tenggara dan memiliki ciri khas yang unik: tubuh besar berbulu hitam lebat, kumis panjang, serta ekor prehensil yang mampu melilit dahan seperti tangan tambahan. Kemampuan ini menjadikannya satu-satunya karnivora Asia yang benar-benar dapat berpegangan pada cabang pohon menggunakan ekornya.
Binturong juga terkenal karena aromanya yang tidak biasa. Bau tubuhnya sering disamakan dengan popcorn hangat, berasal dari senyawa kimia 2-acetyl-1-pyrroline (zat yang sama yang terbentuk saat biji jagung dipanaskan) yang dilepaskan melalui urin untuk menandai wilayah. Meski terlihat besar, ia sebenarnya satwa yang sangat pemalu dan aktif pada malam hari. Jika binturong terlihat di siang hari, terutama di sekitar rumah, hampir pasti itu pertanda ia sedang terdesak dan kehilangan jalur kembali ke habitatnya.
Peran Binturong dalam Siklus Kehidupan Hutan
Dalam ekosistem, peran binturong jauh melampaui jumlah populasinya. Ia dikenal sebagai penyebar biji pohon ara (Ficus), salah satu jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan utama bagi ratusan spesies burung, primata, kelelawar, dan reptil di hutan. Proses pencernaan binturong membantu melunakkan biji sehingga lebih mudah berkecambah. Dengan demikian, keberadaannya berperan langsung dalam regenerasi hutan tropis dan menjaga keseimbangan rantai makanan.
Kemunculan binturong di permukiman umumnya berkaitan dengan tekanan lingkungan. Fragmentasi hutan, alih fungsi lahan, dan cuaca ekstrem membuat koridor alami mereka terputus, memaksa satwa turun dari pegunungan untuk mencari makanan atau tempat aman.
Binturong dalam Daftar Satwa yang Dilindungi
Di tingkat konservasi, binturong ditetapkan oleh IUCN berstatus Rentan (Vulnerable) secara global dan termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia. Perlindungannya diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta diperkuat melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. Artinya, menangkap, melukai, atau membunuh binturong merupakan tindakan ilegal yang dapat dikenai sanksi pidana.
Di negeri yang dikenal sebagai salah satu pusat biodiversitas dunia, justru banyak satwa yang perlahan hilang bukan hanya dari hutan, tetapi juga dari ingatan manusia. Mereka tak lagi hadir dalam cerita rakyat, tak dikenalkan di ruang kelas, dan jarang muncul dalam percakapan sehari-hari. Ketika suatu makhluk hidup berhenti dikenal, ia mudah berubah menjadi sesuatu yang ganjil — lalu disalahpahami sebagai ancaman, bahkan dianggap mistis. Tragedi seperti yang menimpa binturong menjadi pengingat bahwa menjaga keanekaragaman hayati bukan hanya melindungi habitatnya, tetapi juga menjaga pengetahuan dan kedekatan manusia dengan alam itu sendiri.