
Belakangan ini, media sosial dihebohkan oleh video seekor bayi monyet yang tampak ditelantarkan ibunya dan mencari kenyamanan pada sebuah boneka. Bayi itu bernama Panchi-kun, atau akrab disebut Punch. Ia dirawat di Kebun Binatang Kota Ichikawa di Jepang. Dalam hitungan hari, videonya menyebar luas dan merebut hati banyak orang di seluruh dunia. Banyak yang merasa marah, sedih, bahkan menyimpulkan bahwa ia “dibully” atau “dibuang” oleh keluarganya sendiri.
Namun, apakah benar seperti itu? Ataukah ada realitas biologis dan sosial yang lebih kompleks di balik momen yang menyentuh hati itu?
Panchi-kun adalah bayi monyet dari spesies Macaca fuscata, atau yang dikenal sebagai Japanese Macaque (Snow Monkey). Spesies ini terkenal dengan kemampuannya beradaptasi di lingkungan bersuhu dingin dan struktur sosialnya yang sangat kompleks.
Fakta Spesies:
Monyet Jepang merupakan satwa sosial dan hidup dalam kelompok besar. Setiap anggota, termasuk bayi, harus belajar memahami bahasa tubuh, posisi sosial, dan aturan kelompok sejak usia sangat dini.
Dalam dunia primata, penolakan induk terhadap anaknya bukanlah sesuatu yang sepenuhnya jarang terjadi. Terdapat beberapa faktor dapat memengaruhi kondisi ini, misalnya ketika induk baru pertama kali melahirkan sehingga belum memiliki pengalaman dan keterampilan pengasuhan yang memadai. Usia induk yang masih muda juga dapat berperan karena kematangan emosional dan respons pengasuhan belum berkembang optimal. Selain itu, stres lingkungan, terutama pada lingkungan buatan seperti kebun binatang dapat memengaruhi keseimbangan hormonal dan perilaku keibuan. Gangguan dalam proses bonding awal antara induk dan bayi pun dapat menghambat terbentuknya naluri merawat. Di alam liar, dorongan untuk bertahan hidup seringkali menjadi faktor dominan, sehingga induk akan memusatkan energi dan perhatiannya pada kondisi yang paling mendukung kelangsungan hidup dirinya maupun kelompoknya.
Untuk membantu menurunkan tingkat stres Panchi-kun, pengelola kebun binatang memberikan boneka orangutan sebagai comfort object. Boneka ini berfungsi sebagai pengganti sentuhan dan rasa aman yang biasanya diperoleh dari induk. Momen ketika Panchi-kun memeluk boneka tersebut memang menyentuh secara emosional bagi manusia. Namun, dari sudut pandang kesejahteraan satwa, langkah itu merupakan intervensi untuk memastikan stabilitas psikologisnya.
Video yang menunjukkan Panchi-kun diseret oleh monyet dewasa memicu kemarahan banyak orang. Namun dalam struktur sosial primata, perilaku tersebut sering kali merupakan bagian dari proses disiplin sosial. Interaksi seperti teguran fisik ringan, penarikan dan grooming atau saling membersihkan bulu adalah bagian dari pembelajaran sosial. Grooming khususnya menjadi tanda penerimaan dalam kelompok. Kabar baiknya, Panchi-kun mulai menunjukkan perkembangan positif dan perlahan diterima dalam kelompoknya. Ini menunjukkan bahwa mekanisme sosial alami sedang berjalan.
Kisah Panchi-kun mengajarkan kita satu hal penting, tidak semua yang terlihat “kejam” di mata manusia berarti demikian dalam konteks ekologi dan perilaku satwa.Sebagai manusia, kita memiliki empati dan itu adalah hal baik. Namun dalam memahami dunia satwa, kita juga perlu melihat dari perspektif ilmiah. Alam bekerja dengan mekanismenya sendiri, seringkali keras, tetapi berorientasi pada kelangsungan hidup spesies. Alih-alih sekadar tersentuh oleh viralitasnya, kisah ini bisa menjadi pintu masuk untuk meningkatkan literasi tentang perilaku primata, memahami pentingnya kesejahteraan satwa di fasilitas konservasi dan merenungkan kembali bagaimana manusia memandang serta memperlakukan hewan

Oleh : Salma Darajatun