World Wetlands Day

Banyak orang akan langsung bereaksi saat melihat hutan tropis yang gundul atau lahan yang tampak tandus. Namun, pemandangan berbeda terjadi pada Lahan Basah (Wetlands). Saat ekosistem ini perlahan mengecil, mengering, atau dikonversi menjadi lahan beton, sering kali tidak ada yang menyadarinya—sampai akhirnya dampak buruknya menghantam kehidupan kita.

Dalam rangka memperingati World Wetlands Day, mari kita bedah mengapa ekosistem transisi ini adalah kunci keberlangsungan hidup manusia di bumi.

Apa Sebenarnya Lahan Basah Itu?

Lahan basah adalah ekosistem transisi yang mempertemukan daratan dan perairan. Secara teknis, ini adalah wilayah di mana tanahnya jenuh dengan air, baik secara permanen maupun musiman. Di Indonesia, kita mengenalnya dalam berbagai bentuk:

  • Hutan Mangrove: Benteng pesisir yang tangguh.
  • Lahan Gambut: "Tabungan" karbon terdalam di bawah tanah.
  • Rawa & Danau: Tandon air alami bagi jutaan manusia.
  • Padang Lamun: Penyerap karbon super di bawah laut.

Meski hanya mencakup 6% permukaan bumi, lahan basah menjadi rumah bagi 40% spesies dunia. Ia bukan sekadar "tanah becek", melainkan pusat biodiversitas global.

Peran Vital: Ginjal dan Spons Planet Bumi

Lahan basah melakukan pekerjaan berat yang mungkin tidak pernah kita sadari setiap harinya:

  1. Penyimpan Karbon Terkuat: Mangrove dan gambut menyimpan karbon jauh lebih efisien daripada hutan daratan. Mangrove Indonesia sendiri menyimpan sekitar 950 Mg C/ha. Jika rusak, karbon ini lepas dan menjadi "bom" bagi iklim dunia.
  2. Filter Air Alami: Dubbed as "Nature's Kidneys", lahan basah menyaring polutan dan limbah melalui tanaman dan mikrobanya sebelum air tersebut mengalir ke sungai atau lautan.
  3. Benteng Banjir & Kekeringan: Lahan basah bekerja seperti spons; menyerap kelebihan hujan untuk mencegah banjir, dan melepaskannya perlahan saat kemarau untuk mengisi air tanah.

Potret Lahan Basah di Indonesia (2024-2025)

Indonesia merupakan salah satu pemain kunci lahan basah dunia. Berikut adalah data sebarannya:

  • Mangrove: 3,44 Juta Ha (Terluas ke-3 di dunia).
  • Gambut: 13,4 Juta Ha (Penyimpan karbon raksasa).
  • Rawa & Danau: ±10 Juta Ha (Termasuk 521 danau alami).
  • Padang Lamun: 293 Ribu Ha (Penyerap karbon 35x lebih cepat dari hutan tropis).

Realita yang Menyakitkan: Hilang dalam Diam

Data menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan. Sejak tahun 1970, dunia telah kehilangan 411 juta hektare lahan basah—setara dengan 22% penurunan global atau hilangnya lebih dari setengah miliar lapangan sepak bola.

Laju kerusakan lahan basah bahkan melampaui laju deforestasi hutan. Masalah utamanya adalah sifat kerusakannya yang permanen; fungsi filtrasi air dan penyimpanan karbon ribuan tahun tidak bisa dipulihkan secara instan melalui reboisasi biasa.

Siapa yang Paling Terancam?

Kehilangan lahan basah bukan hanya masalah lingkungan, tapi masalah kemanusiaan:

  • Masyarakat Perkotaan: Tanpa lahan basah, kota kehilangan filter air alami dan menjadi langganan banjir bandang.
  • Sektor Industri: Pertanian dan manufaktur terancam krisis air dan ketidakpastian sumber daya.
  • Komunitas Pesisir: Nelayan kehilangan tangkapan ikan dan benteng alami dari abrasi serta badai.

Sudah saatnya kita berhenti mengabaikan ekosistem ini hanya karena kerusakannya tidak terlihat mencolok di mata. Hutan yang gundul mungkin langsung memicu kemarahan kita, namun lahan basah yang mengering adalah ancaman sunyi yang bisa menghentikan pasokan air bersih dan mempercepat krisis iklim.

Melindungi lahan basah adalah prioritas mendesak. Jangan tunggu sampai mereka benar-benar hilang untuk menyadari betapa kita membutuhkannya.

Weekly newsletter
No spam. Just the latest releases and tips, interesting articles, and exclusive interviews in your inbox every week.
Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.